Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Terima kasih anda sudah berkunjung di Website KREASI | Sebuah Kreasi yang mencoba memberikan pengetahuan untuk melangkah dalam masa depan yang Gemilang | Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Anda |

Selasa, 07 Mei 2013

Makalah Pendekatan dalam Memecahkan Problem di Kelas







BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dari kegiatan pengajaran. Tujuan pengajaran akan tercapai jika pesrta didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan peserta didik tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik yang aktif, tetapi fikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai, karena peserta didik tidak merasakan perubahan dalam diri. Namun, selain peserta didik guru juga dituntut untuk memahami masalah-masalah yang ditemui peserta didik agar dapat mempermudah peserta didik untuk memahami bahkan mengamalkan ilmu yang didapat.
Guru professional berusaha mendorong siswa agar belajar secara berhasil. Ia menemukan bahwa ada bermacam hal yang menyebabkan siswa belajar.ada siswa yang tidak belajar karena dimarahi oleh orang tua. Ada siswa yang enggan belajar karena pindah tempat tinggal. Ada siswa yang sukar memusatkan perhatian waktu guru mengajarkan topic tertentu. Ada pula siswa yang giat belajar karena bercita-cita menjadi seorang ahli. Bermacam-macam keadaan siswa tersebut menggambarkan bahwa pengetahuan tentang masalah-masalah belajar merupakan hal yang sangat penting bagi guru atau calon guru. Dalam makalah ini kami membahas mengenai jenis penyimpangan tingkah laku dalam masalah individual yang mengganggu belajar mengajar. Kondisi belajar yang baik akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang baik, begitu pula sebaliknya.

B.Landasan Teori
    Aktivitas belajar  bagi individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara  wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang terasa amat sulit.  Dalam  hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi.
    Demikian antara lain kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam  kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktivitas belajar. Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individu ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. Dalam keadaan di mana anak didik / siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut kesulitan belajar.
Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena  faktor intelegensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non intelegensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Karena itu, dalam rangka memberikan bimbingan yang tepat kepada anak  didik, maka para pendidik perlu memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan kesulitan belajar.  Didalam kelas terdapat banyak karakter siswa yang harus diketahui oleh seorang guru. Ketika peserta didik melakukan penyimpangan tingkah laku dalam proses belajar mengajar, maka seorang guru akan lebih mudah untuk menentukan langkah apa yang harus diambil atau dengan pendekatan apa yang diambil guru untuk memcahkan problem yang terjadi didalam kelas.

C.Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan sebuah masalah yaitu sebagai berikut:
1.Apa yang dimaksud dengan belajar mengajar ?
2.Apa saja  masalah yang ditemui dalam belajar mengajar ?
3.Apa yang dimaskud dengan prilaku menyimpang?
4.Jenis-jenis penyimpangan tingkah laku dalam belajar?
5.Gejala penyimpangan perilaku pada anak?
6.Apasaja pendekatan dalam belajar mengajar ?

D.Tujuan Masalah
Tujuan dari pembahasan makalah ini diharapkan:
1.Untuk  mengetahuai apa yang dimaksud dengan belajar mengajar.
2.Untuk memahami apa saja masalah yang ditemui dalam belajar mengajar.
3.Untuk mengetahui apa itu prilaku menyimpang, jenis-jenis nya, gejala, dan pendekatan dalam belajar mengajar.

BAB II
PEMBAHASAN


A.Jenis Penyimpangan tingkah laku dalam belajar mengajar

1.Pengertian perilaku menyimpang
    Perilaku adalah segala sesuatu yang diperbuat oleh seseorang atau pengalaman. Ada dua jenis perilaku manusia, yakni perilaku normal dan perilaku abnormal. Perilaku normal adalah perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya, sedangkan parilaku abnormal adalah perilaku yang tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya, dan tidak sesuai dengan norma-norma sosial yang ada. Perilaku abnormal ini juga biasa disebut perilaku menyimpang atau perilaku bermasalah. Apabila anak dapat melaksanakan tugas perilaku pada masa perkembangannya dengan baik, anak tersebut dikatakan berperilaku normal.
Masalah muncul apabila anak berperilaku tidak sesuai dengan tugas perkembangannya. Anak yang berperilaku diluar perilaku normal disebut anak yang berperilaku menyimpang (child deviant behavior). Perilaku anak menyimpang memiliki hubungan dengan penyesuaian anak tersebut dengan lingkungannya. Perilaku anak bermasalah atau menyimpang ini muncul karena penyesuaian yang harus dilakukan anak terhadap tuntutan dan kondisi lingkungan yang baru.  Berarti semakin besar tuntutan dan perubahan semakin besar pula masalah penyesuaian yang dihadapi anak tersebut.
    Perilaku menyimpang adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif atau pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerja sama dengan teman, yang merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar anak dan hal itu termasuk perilaku bermasalah.
Guru perlu memahami perilaku bermasalah ini sebab anak yang bermasalah biasanya tampak di dalam kelas dan bahkan dia menampakkan perilaku bermasalah itu di dalam keseluruhan interaksi dengan lingkungannya. Walaupun gejala perilaku bermasalah di sekolah itu mungkin hanya tampak pada sebagian anak, pada dasarnya setiap anak memiliki masalah-masalah emosional dan penyesuaian sosial. Masalah itu tidak selamanya menimbulkan perilaku bermasalah atau menyimpang yang kronis.
Guru sering kali menanggapi perilaku anak yang bermasalah atau menyimpang dengan memberikan perlakuan secara langsung dan drastis yang tidak jarang dinyatakan dalam bentuk hukuman fisik. Cara atau pendekatan seperti ini sering kali tidak membawa hasil yang diharapkan karena perlakuan tersebut tidak didasarkan kepada pemahaman apa yang ada dibalik perilaku bermasalah. Sekalipun demikian pemahaman terhadap perilaku bermasalah bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan guru.

2.Gejala Penyimpangan Perilaku pada Anak

    Gejala penyimpangan perilaku anak merupakan tanda-tanda munculnya perilaku menyimpang pada anak. Gejala-gejala penyimpangan perilaku anak merupakan perbuatan atau atau perilaku anak  yang dapat menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami penyimpangan perilaku  yang bersangkutan. Secara umum gejala ini berasal dari dalam diri anak dan dari lingkungan sekitar.
Gejala penyimpangan perilaku dari dalam diri anak muncul akibat ketidakmampuan anak tersebut untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan di mana ia berada. Hal tersebut juga akan mengakibatkan anak berperilaku mundur ke perilaku yang sebelumnya ia lalui. Sedangkan gejala penyimpangan perilaku pada anak yang berasal dari lingkungan sekitar menurut antara lain pandangan orang tua dan guru terhadap perilaku anak, pola perilaku sosial yang buruk yang berkembang di rumah, lingkungan rumah kurang memberikan model perilaku untuk ditiru, kurang motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian sosial, dan anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar.

3.Jenis-jenis penyimpangan tingkah laku siswa dalam belajar mengajar

a.Rasionalisasi
    Rasionalisasi dalam kehidupan sehari-hari biasa disebut “memberikan alasan”. Memberikan alasan yang dimaksud adalah memberikan penjelasan atas perilaku yang dilakukan oleh individu dan penjelasan tersebut biasanya cukup logis dan rasional tetapi pada dasarnya apa yang dijelaskan itu bukan merupakan penyebab nyata karena dengan penjelasan tersebut sebenarnya individu bermaksud menyembunyikan latar belakang perilakunya .

b.Sifat Bermusuhan
    Sikap individu yang menganggap individu lain sebagai musuh/saingan. Sikap bermusuhan ini tampak dalam perilaku agresif, menyerang, mengganggu, bersaing dan mengancam lingkungan.

c.Menghukum diri sendiri
    Perilaku menghukum diri sendiri terjadi karena individu merasa cemas bahwa orang lain tidak akan menyukai dia sekiranya dia mengkritik orang lain. Orang seperti ini memiliki kebutuhan untuk diakui dan disukai amat kuat.

d.Refresi/penekanan
    Refresi ditunjukkan dalam bentuk menyembunyikan dan menekan penyebab yang sebenarnya ke luar batas kesadaran. Individu berupaya melupakan hal-hal yang menimbulkan penderitaan hidupnya.


e.Konformitas
    Perilaku ini ditunjukkan dalam bentuk menyelamatkan diri dari perasaan tertekan atau bersalah terhadap pemenuhan harapan orang lain. Tujuan anak melakukan hal ini agar ia terhindar dari perasaan cemas.

f.Sinis
    Perilaku ini muncul dari ketidakberdayaan individu untuk berbuat atau berbicara dalam kelompok. Ketidakberdayaan ini membuat dirinya khawatir dan cenderung menghindar dari penilaian orang lain. Semua perilaku mekanisme pertahanan diri di atas mempunyai karakteristik. Karakteristik tersebut antara lain:
1)menolak, memalsukan, atau mengacaukan kenyataan.
2)dilakukan tanpa menyadari latar belakang perilaku tersebut. Pola perilaku pertahanan diri ini cenderung kepada pengurangan kecemasan dan bukan pemecahan masalah yang menjadi dasar penyebab kecemasan itu.

B.Pendekatan dalam memecahkan problem di kelas

Dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan anak.  Sebaiknya guru memandang anak didik sebagai individu dengan segala perbedaan, sehingga mudah dalam melakukan pendekatan dalam pembelajaran. Berikut maca-macam pendekatan yang bisa dilakukan oleh guru :

1.Pendekatan individual
Di kelas ada sekelompok peserta didik. Mereka duduk dikursi masing-masing dan mereka belajar dengan gaya berbeda-beda, perilaku mereka juga berbeda-beda. Perbedaan individu peserta didik yang berbeda ini memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pengajaran harus memperhatikan perbedaan peserta didik pada aspek individual ini. Dengan kata lain guru harus melakukan pendekatan individual dalam strategi belajar mengajar. Jadi pendekatan individual adalah pendekatan yang dilakukan guru dengan memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individual masing-masing.

2.Pendekatan kelompok
Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan perlu digukan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial peserta didik. Hal ini di sadari bahwa peserta didik adalah sejenis makhluk homo socius,  yakni makhluk berkecenderungan untuk hidup bersama. Dengan penekanan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuhkembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada pada diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di kelas. Dan mereka sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan, tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa keterlibatan makhluk lain, langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak disadari.
Jadi pendekatan kelompok adalah pendekatan yang dilakukan guru dengan tujuan membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik serta membina sikap kesetiakawanan sosial. Misalnya anak didik dibiasakan hidup bersama, bekerja sama dengan kelompok sehingga akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu mereka yang kekurangan. Sebaliknya mereka yang mempunyai kekurangan dengan rela hati mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan tanpa rasa minder. Persaingan yang positif pun terjadi di kelas dalam  rangka untuk mencapai prestasi belajar yang optimal serta anak didik menjadi aktif, kreatif dan mandiri.

3.Pendekatan bervariasi
Permasalahan yang dihadapi anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan pendidik akan lebih tepat dengan menggunakan pendekatan bervariasi pula. Misalnya anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda cara pemecahannya/ penyelesaiannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda-beda pula.
Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik dalam  belajar adalah bermacam-macam. Kasus yang biasanya muncul dalam  pengajaran adalah berbagai motif sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus. Maka kiranya pendekatan bervariasi ini sebagai alat yang dapat guru gunakan untuk kepentingan pengajaran.
Jadi pendekatan variasi adalah suatu pendekatan yang dilakukan guru untuk menghadapi permasalahan anak didik yang bervariasi dengan menggunakan variasi teknik pemecaham masalah tersebut. Misalnya permasalahan anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka bicara akan berbeda cara pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda pula. Demikian juga halnya terhadap anak didik yang membuat keributan. Di sini guru dapat menggunakan teknik pemecahan masalah dengan pendekatan variasi.

4.Pendekatan Edukatif
Apapun yang guru lakukan dalam pendidikan dan pengajaran dengan tujuan untuk mendidik, bukan karena maksud lain, seperti dendam, gengsi, ingin di takuti, dan lain-lain. Setiap tindakan, sikap dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan dan bertujuan mendidik peserta didik agar menghargai norma hukum, norma asusila, norma moral, norma sosial dan norma agama.

5.Pendekatan pengalaman
Belajar dari pengalaman adalah lebih baik, dari sekedar bicara, dan tidak pernah berbuat sama sekali. Belajar adalah kenyataan yang ditunjukan dengan kegiatan fisik. Menurut withesington , ciri-ciri pengalaman yang edukatif adalah berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak, kontinu dengan kehidupan anak, intruksif dengan lingkungan, dan menambah integrasi anak.  

6.Pendekatan pembiasaan
Pembiasaan adalah pendidikan bagi anak yang masil kecil, pembiasaan ini sangat penting. Karena dengan kebiasaan itulah akhirnya suatu aktivitas akan menjadi milik anak di kemudian hari. Stephen R. Covey, pengarang buku The 7 Habits of Effective people dalam buku Aunurrahman , mengemukakan bahwa kebiasaan sebagai titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan, dan keinginan. Pengetahuan adalah paradigma teoritis, apa yang harus dilakukan dan mengapa. Keterampilan adalah bagaimana melakukannya. Dan keinginan adalah motivasi untuk melakukan. Agar sesuatu bisa menjadi kebiasaan dalam hidup kita, kita hurus memiliki ketigannya.

7.Pendekatan emosional
Emosi adalah gejala kejiwaan yang ada dalam diri seseorang. Emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Perasaan rohaniah didalamnya ada perasaan intelektual, perasaan esteris, perasaan etis, perasaan sosial, dan persaan harga diri.

8.Pendekatan rasional
Manusia adalah makhluk yang sempurna, yang Allah ciptakan, karena manusia berbeda. Letak perbedaannya adalah terdapat pada akal. Di sekolah peserta didik dengan berbagai ilmu pengetahuan. Perkembangan berfikir peserta didik dibimbing kearah yang lebih baik, sesuai dengan tingkat peserta didik, usaha yang terpenting bagi guru adalah bagaimana memberikan perasaan pada akal (rasio) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama.

9.Pendekatan fungsional
Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh peserta didik di sekolah bukan hanya pengisi otak, tetapi diharapkan bagi kehidupan individu maupun sebagai makhluk sosial. Dalam hal ini ada beberapa metode mengajar yang dipertimbangkan, antara lain adalah metode latihan, pemberian tugas, ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi.



10.Pendekatan keagamaan
Dengan penetapan prinsip-prisip mengajar seperti prinsip kolerasi dan sosialisasi, guru dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan, untuk semua mata pelajaran umum.

11.Pendekatan kebermaknaan
Bahasa adalah alat untuk menyampaikan dan memahami gagasan pikiran, pendapat dan perasaan secara lisan maupun tulisan.
Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan melalui struktur (tata bahasa dan kosa kata). Dengan demikian struktur berperan sebagai alat pengungkapan makna (gagasan, pikiran, pendapat dan perasaan).
Dalam rangka penguasaan bahasa inggris tidak bisa diabaikan masalah pendekatan yang harus digunakan dalam proses belajar mengajar. Kegagalan penguasaan bahasa adalah salah satu contoh disebabkannya kurang tepatnya pendekatan yang digunakan oleh guru.





BAB III
HASIL OBSERVASI

Observasi dilakukan di MI Miftahul Ulum Braja Selebah, Lampung Timur. Ketika penyusun datang ke sekolah tersebut sedang diadakan Try Out bagi kelas VI dan proses belajar mengajar tidak dilangsungkan di kelas melainkan diliburkan. Namun saya dapat menemui wali kelas 4, yaitu Ibu Fatim, dan menanyakan problem-problem apasajakah yang terjadi di kelas beliau. Beliau menjelaskan bahwa di kelas tersebut terdapat 45 siswa siswi, 20 siswa laki-laki dan 25 siswi perempuan. Dengan jumlah siswa yang banyak dikelas tersebut, guru sedikit kesulitan awalnya, namun seiring berjalannya waktu, guru merasa terbiasa. Di kelas tersebut terdapat beberapa anak yang memiliki keterbatasan sehingga kurang mampu untuk mengikuti pembelajaran sehingga tertinggal dengan teman-temannya. Disamping itu anak tersebut juga masih kesulitan dalam membaca sampai kelas 4 ini. Upaya-upaya telah dilakukan mulai dari pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh guru. Siswa tersebut merupakan pindahan dari MI dari desa lain, sehingga murid tersebut memang bukan murid yang dari kelas satu sudah belajar di MI Miftahul Ulum. Guru juga sudah melakukan perbincangan dengan orang tua murid tersebut, dan memang anak tersebut memiliki kekurangan dan susah dalam menerima materi yang diajarkan.




BAB IV
PENUTUP

A.Kesimpulan
    Dilihat dari penjabaran diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku menyimpang adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif atau pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerja sama dengan teman, yang merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar anak dan hal itu termasuk perilaku bermasalah. Banyak pendekatan yang bisa dilakukan oleh guru dalam memecahkan problem di kelas, antara lain : pendekatan individual, kelompok, edukatif, keagamaan, dan masih banyak lagi pendekatan yang bisa dipergunakan guru dalam mengatasi problem di kelas.

B.Saran
    Melalui makalah ini semoga dapat memberikan kita pengetahuan baru untuk membantu bagaimana cara memahami kemudian memberikan solusi dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan masalah yang datang pada peserta didik. Sebagai calon guru, kita harus mengerti karakter siswa yang kita didik. Jadi ketika peerta didik kita mengalami masalah dalam belajar, kita dapat mengetahui langkah apa yang akan kita ambil, pendekatan apa yang akan kita pakai untuk mengatasi problem tersebut.







DAFTAR PUSTAKA

1.M.Dalyono.2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
2.Aunurrahman.2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung Al-fabeta.
3.Akla.2004.Strategi Belajar Mengajar.Metro: STAIN JUSI Metro.
4.Hurlock, Elizabeth. B. 2004. Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
5.Darwis, Abu. 2006. Perilaku Menyimpang Murid SD. Jakarta.
6.Bahri Djamarah, Saiful. 2010. Strategi belajar mengajar. Jakarta : Rineka cipta.

0 komentar:

Tinggalkan Komentar Anda

Silakan berkomentar dengan baik dan sopan. Untuk berkomentar anda bisa gunakan format di bawah ini.
Format untuk komentar:
1. Pilih profil sebagai Name/URL
2. Isikan nama anda
3. Isikan URL (Blog/Website/Facebook/Twitter/Email /Kosongkan)
4. Isikan komentar
5. Poskan komentar